Sekolah Budaya Kain Pantang Resmi Diluncurkan di Sintang

oleh
Foto Bersama usai Launching Sekolah Budaya Kain Pantang

SINTANG, ujungjemari.id- Sekolah Budaya Kain Pantang resmi diluncurkan di Kabupaten Sintang sebagai upaya melestarikan budaya lokal sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Yayasan Rumah Belajar Kain Pantang dan mendapat dukungan dari pemerintah daerah, dunia pendidikan, serta berbagai pihak lainnya.

Peluncuran sekolah budaya tersebut dibuka secara resmi melalui Zoom oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Provinsi Kalimantan Barat, Jonny Pesta Simamora pada Sabtu 9 Maret 2026.

Peresmian juga ditandai dengan pembukaan tirai oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Sintang Hermina Bala bersama Kepala Stasiun RRI Sintang.

Kegiatan ini dihadiri Plh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat Bidang Kebudayaan Matius Pahan, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Sintang Subendi, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang Bidang Kebudayaan Danus, perwakilan Universitas Kapuas Sintang, serta para guru dan siswa dari SMP Negeri 1 Sintang dan SMK Kartini Sintang.

Penetapan Yayasan Rumah Belajar Kain Pantang sebagai Kawasan Berbasis Kekayaan Intelektual Komunal 2025 berdasarkan Piagam Menteri Hukum Republik Indonesia menjadi dasar penting bagi pengembangan kegiatan tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Sintang, Subendi, menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan Yayasan Rumah Belajar Kain Pantang dalam melestarikan budaya daerah.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena selain menjaga budaya lokal, juga membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat. Kain pantang bisa menjadi salah satu identitas daerah yang memiliki nilai ekonomi,” kata Subendi.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Sintang, Danus, menilai kehadiran Sekolah Budaya Kain Pantang dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal budaya daerah.

“Sekolah budaya ini menjadi jembatan bagi anak-anak muda untuk belajar budaya lokal seperti pantun dan syair yang mulai jarang dikuasai generasi sekarang,” jelas Danus.

Pendiri Kain Pantang Sintang, Hetty, mengatakan Sekolah Budaya Kain Pantang tidak hanya mempelajari tenun, tetapi juga berbagai bidang lain yang berkaitan dengan budaya dan ekonomi kreatif.

“Sekolah budaya ini tidak hanya tentang tenun kain pantang. Kami juga mengembangkan kuliner lokal, karya ilmiah, produk fashion, dan ekonomi kreatif agar generasi muda memiliki keterampilan yang bisa memberi manfaat bagi masa depan,” terang Hetty.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *