SINTANG, ujungjemari.id- Universitas Kapuas (UNKA) Sintang kembali mencetak ratusan sarjana baru pada Wisuda Sarjana (S-1) Angkatan XXII yang digelar di Gedung Indoor Apang Semangai, Kamis (30/10/2025).
Rektor Universitas Kapuas Sintang, Dr. Antonius, dalam sambutannya menyampaikan bahwa dari total 408 wisudawan, sebanyak 405 merupakan lulusan tahun 2025, sementara tiga orang lainnya merupakan lulusan tahun sebelumnya.
Para wisudawan berasal dari empat fakultas dan tujuh program studi, yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dengan program studi Administrasi Publik dan Administrasi Bisnis, Fakultas Pertanian dengan program studi Agroteknologi dan Kehutanan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan program studi Pendidikan Biologi dan Pendidikan Bahasa Inggris, serta Fakultas Hukum dengan program studi Ilmu Hukum.
“Dengan wisuda hari ini, total alumni Universitas Kapuas sudah mencapai lebih dari 7.200 orang. Kami berharap para wisudawan dapat menjadi duta kampus di tengah masyarakat, menunjukkan karakter, sikap, dan keterampilan yang baik. Mereka adalah wajah Universitas Kapuas,” ujar Rektor Antonius.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan universitas tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, tetapi juga dari kontribusi dan perilaku positif para alumni di masyarakat. “Kalau alumni kita mampu menunjukkan hal-hal terbaik dalam bekerja dan bersikap, itulah promosi terbaik bagi Universitas Kapuas. Mereka adalah penentu keberlanjutan kampus ini ke depan,” tambahnya.
Rektor juga menyinggung pesan Bupati Sintang yang memiliki latar belakang sebagai pengusaha. Menurutnya, seorang sarjana harus memandang ilmu yang dimiliki sebagai modal utama untuk berkarya. “Sarjana itu modal. Jadi jangan berpikir tidak punya modal. Modal utama kalian adalah ilmu, karakter, dan kejujuran. Kalau mau terjun ke dunia kerja atau usaha, jangan manja dan jangan mudah menyerah,” pesan Rektor Antonius.
Sementara itu, Ketua Yayasan Melati Sintang, Kusnidar, dalam sambutannya mengingatkan bahwa tantangan bagi para lulusan perguruan tinggi saat ini semakin besar. Ia menyinggung data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2025 yang mencatat tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 4,76 persen atau sekitar 7,28 juta orang, dan sebagian di antaranya adalah lulusan perguruan tinggi.
Menurut Kusnidar, kondisi tersebut menunjukkan bahwa lulusan sarjana perlu lebih kreatif dan berani menciptakan peluang kerja sendiri. “Kita tidak bisa hanya menunggu pekerjaan datang. Sarjana harus mampu membuka peluang, menciptakan lapangan kerja, dan mengelola kesempatan yang ada,” tegasnya.
Ia juga berpesan agar para sarjana selalu menjalankan tiga kewajiban penting dalam kehidupan. Pertama, kewajiban profesional, yaitu terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan menjunjung etika profesi. Kedua, kewajiban sosial, yakni berperan aktif dalam memecahkan persoalan bangsa dengan inovasi, kreativitas, serta berani menciptakan lapangan kerja. Ketiga, kewajiban moral, yaitu memiliki integritas dan etika dalam setiap tindakan.
“Ilmu setinggi apa pun tidak akan berarti tanpa moral dan etika yang benar. Jadilah sarjana yang membawa perubahan positif bagi bangsa,” pesan Kusnidar.










