Bupati Sintang Minta Peserta Muspas Terbuka Sampaikan Masalah Umat

oleh

SINTANG, ujungjemari.id- Persoalan umat di wilayah pedalaman perlu mendapat perhatian yang sama dengan persoalan di perkotaan. Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala meminta seluruh peserta Musyawarah Pastoral (Muspas) Keuskupan Sintang berani menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi umat dan pelayan Gereja agar dapat menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Bala saat menghadiri pembukaan Muspas Keuskupan Sintang di Rumah Retret Temenggung Tukong, Kecamatan Kelam Permai, Selasa, 27 Oktober 2026.

Muspas dibuka Uskup Sintang Mgr. Samuel Oton Sidin, OFM.Cap. Kegiatan ini juga dihadiri Ketua Komisi V DPR RI Lasarus, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan, Wakil Bupati Melawi Malin, Wakil Ketua DPRD Sintang Yohanes Rumpak, serta para imam, suster, bruder dan peserta Muspas.

Bupati Bala menilai, Muspas menjadi kesempatan penting untuk menghimpun berbagai masukan dari paroki-paroki, termasuk persoalan yang selama ini dihadapi umat di wilayah terpencil.

Menurutnya, masukan tersebut diperlukan agar keputusan dan arah pelayanan pastoral ke depan benar-benar mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan.

“Pada kesempatan musyawarah ini, saya berpesan kepada kawan-kawan semua, dari hulu maupun dari penghujung mana pun, jangan minder. Sampaikan semua masalah yang ada di sana. Inilah guna forum ini untuk menjaring situasi yang ada di keuskupan kita,” ujar Bupati.

Ia mengatakan, Muspas tidak hanya menjadi forum untuk mengevaluasi pelayanan yang sudah berjalan, tetapi juga menyusun arah perbaikan untuk masa mendatang. Karena itu, peserta diharapkan terbuka menyampaikan kendala, baik yang berkaitan dengan pelayanan umat maupun kebutuhan para pelayan Gereja.

Bupati juga mengajak para pastor dan suster menyampaikan kesulitan yang dihadapi selama menjalankan tugas. Dengan keterbukaan, persoalan dapat diketahui bersama dan dicarikan jalan keluar sesuai kemampuan serta kebutuhan masing-masing wilayah.

“Acara ini ada maksud untuk mengevaluasi apa yang sudah ada selama ini, dan ada keinginan untuk memperbaiki di kemudian hari. Kalau bahasa kekinian, ini seperti kita membuat Google Maps ke depan untuk keuskupan kita,” katanya.

Ia berharap, perbedaan kondisi geografis tidak menjadi penghalang bagi umat dan pelayan Gereja untuk menyampaikan aspirasi.

“Yang penting kita tetap semangat, saling mengisi dalam kekurangan dan kelebihan,” pesannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *