SINTANG, ujungjemari.id– Kemarau panjang mulai mengancam produksi padi di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Pemerintah Kabupaten Sintang memperkirakan sebagian petani mengalami penurunan hasil panen, sementara ratusan hektare sawah belum bisa ditanami karena kekurangan air.
Persoalan tersebut dibahas dalam rapat yang dipimpin Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala bersama Wakil Bupati Florensius Ronny di Pendopo Bupati Sintang, Selasa, 15 September 2026.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sintang Martin Nandung mengatakan petani yang menanam padi pada Juni dan Juli terancam gagal panen. Kondisi itu terjadi karena tanaman membutuhkan air pada Agustus dan September, sementara sebagian besar sawah di Sintang merupakan sawah tadah hujan.
“Petani kita yang menanam padi di Juni dan Juli terancam gagal panen karena kemarau ini. Padahal Agustus dan September seharusnya mereka memerlukan air, sementara sawah kita semuanya sawah tadah hujan,” terang Martin.
Ancaman tidak hanya terjadi pada lahan sawah. Martin mengatakan sekitar 40 persen petani lahan kering atau ladang belum membakar lahan untuk persiapan menanam padi. Mereka memilih menunggu kondisi cuaca karena kemarau membuat penanaman padi di ladang sulit dilakukan.
Jika musim hujan datang pada Oktober, petani lahan kering masih dapat mulai menanam. Namun, jika kemarau berlangsung hingga Februari 2027, petani lahan basah maupun lahan kering terancam tidak dapat menanam padi.
Martin meminta pemerintah memperkuat cadangan pangan untuk mengantisipasi penurunan produksi akibat kemarau. Musim tanam yang tidak serempak juga dinilai dapat meningkatkan risiko serangan hama.
Ketua Tim Kerja Penyelenggaraan Penyuluhan Kabupaten Sintang, Yuaner, mengatakan tanaman padi yang ditanam pada Juni diperkirakan mengalami penurunan produktivitas akibat pertumbuhan yang lambat.
“Pertumbuhan padi juga sangat lambat, jadi dipastikan hasilnya tidak baik. Musim tanam juga akan bergeser ke Oktober. Ada lahan sawah sekitar 277,75 hektare, belum bisa ditanam karena kondisi lahan yang tidak mendukung untuk petani melaksanakan penanaman,” terang Yuaner.
Wakil Bupati Sintang Florensius Ronny mengatakan stok beras pemerintah saat ini mencapai 88 ton dan dinilai masih mencukupi kebutuhan.
Ia meminta Dinas Ketahanan Pangan menghitung kebutuhan beras masyarakat Sintang setiap tahun agar pemerintah dapat menyiapkan cadangan pangan yang sesuai.
Ronny juga meminta pemetaan desa yang belum memiliki akses jalan darat dan air bersih dilakukan, terutama untuk mengantisipasi kesulitan distribusi pangan selama kemarau.
“Saya juga minta Dinas PU dan Dinas Perkim membuat mapping dan data desa apa saja yang belum ada jalan darat dalam rangka distribusi sembako, desa apa saja belum memiliki akses air bersih di saat kemarau ini. Sehingga kita bisa membuat perencanaan untuk membantu mereka ke depan,” terang Florensius Ronny.










