SINTANG, ujungjemari.id- Pemerintah Kabupaten Sintang menargetkan layanan hemodialisa atau cuci darah di RSUD Ade M Djoen dapat ditingkatkan menjadi 20 mesin pada tahun 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasien gagal ginjal yang selama ini terus meningkat.
Target itu disampaikan Wakil Bupati Sintang, Florensius Ronny, saat menyampaikan jawaban pemerintah terhadap pandangan umum fraksi-fraksi DPRD dalam rapat paripurna DPRD Kabupaten Sintang, Kamis (9/7/2026).
Ronny menjelaskan, saat ini RSUD Ade M Djoen baru memiliki tujuh mesin hemodialisa. Jumlah tersebut belum mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan pasien karena ruang hemodialisa yang tersedia belum memenuhi standar pelayanan dan sementara masih memanfaatkan ruang ICU.
“Untuk saat ini baru tersedia tujuh mesin hemodialisa karena ruang hemodialisa belum sesuai standar dan masih menumpang di ruang ICU,” kata Ronny.
Ia mengatakan pemerintah daerah sebenarnya telah membangun gedung hemodialisa pada Tahun Anggaran 2025. Namun, kebijakan efisiensi anggaran menyebabkan pembangunan belum dapat diselesaikan sepenuhnya.
Masih terdapat dua pekerjaan fisik yang belum rampung, yakni penyelesaian lantai dan plafon gedung sehingga fasilitas tersebut belum bisa difungsikan untuk melayani pasien.
Sebagai solusi, Pemerintah Kabupaten Sintang kini menggandeng pihak ketiga melalui skema kerja sama operasional (KSO). Selain menyediakan mesin hemodialisa, vendor yang dipilih juga akan menyelesaikan pekerjaan akhir gedung hemodialisa agar dapat segera digunakan.
“Saat ini sedang dalam proses penentuan vendor untuk kerja sama operasional mesin hemodialisa sekaligus menyelesaikan finishing gedung hemodialisa yang baru,” ujarnya.
Ronny menegaskan pemerintah daerah menargetkan layanan 20 mesin hemodialisa dapat terealisasi pada tahun ini sehingga kapasitas pelayanan pasien gagal ginjal di RSUD Ade M Djoen meningkat.
Sebelumnya, Fraksi Amanat Persatuan DPRD Kabupaten Sintang menyoroti keterbatasan mesin cuci darah di RSUD Ade M Djoen. Dalam pandangan umum fraksi pada rapat paripurna, Rabu (8/7/2026), juru bicara fraksi M Agung Gumiwang menyebut keterbatasan alat membuat masih banyak pasien asal Sintang dan daerah sekitarnya harus menjalani cuci darah di rumah sakit di Kabupaten Melawi.
Menurut DPRD, penambahan mesin hemodialisa menjadi salah satu kebutuhan mendesak agar masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan yang lebih cepat tanpa harus dirujuk ke daerah lain.









