
SINTANG, ujungjemari.id- Pemadaman listrik yang belakangan kerap terjadi di Kabupaten Sintang memunculkan kekhawatiran terhadap layanan publik, terutama di sektor kesehatan. Namun, RSUD Ade M Djoen Sintang memastikan pelayanan medis tetap berjalan meski pasokan listrik dari PLN terputus.
Direktur RSUD Ade M Djoen Sintang, dr. Bagus Zodiak Adibrata, mengungkapkan pihaknya telah mengantisipasi kondisi tersebut dengan menyiagakan dua unit genset berkapasitas besar yang mampu menjadi sumber listrik cadangan untuk seluruh fasilitas rumah sakit.
“Pelayanan tetap berjalan karena kami sudah menyiapkan fasilitas genset. Rumah sakit tidak boleh berhenti beroperasi hanya karena terjadi pemadaman listrik,” ujar dr. Bagus saat ditemui di Pendopo Bupati Sintang, Senin (6/7/2026).
Menurutnya, meski dampak pemadaman listrik tidak sampai menghentikan pelayanan kesehatan, rumah sakit tetap berada dalam kondisi siaga karena jadwal dan durasi pemadaman sering kali tidak dapat dipastikan.
“Kami tetap waswas karena tidak tahu kapan listrik padam dan sampai kapan berlangsung. Yang terpenting, seluruh sistem cadangan harus selalu siap agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu,” katanya.
Ia menjelaskan, sistem genset di RSUD Ade M Djoen bekerja secara otomatis. Ketika aliran listrik PLN terputus, pasokan listrik langsung dialihkan ke genset sehingga ruang-ruang vital, termasuk ruang operasi, tetap mendapatkan suplai listrik tanpa jeda yang berarti.
“Khusus ruang operasi tidak ada masalah karena saat listrik padam, genset langsung menyala secara otomatis,” jelasnya.
Meski demikian, dr. Bagus mengakui tantangan terbesar justru datang dari terganggunya jaringan telekomunikasi saat pemadaman berlangsung. Kondisi tersebut berdampak pada berbagai layanan rumah sakit yang kini bergantung pada sistem digital dan jaringan internet.
“Yang cukup berat itu sinyal juga sering ikut mati. Padahal banyak pelayanan kami yang sudah berbasis online. Karena itu, kami sudah menyiapkan tim IT untuk mengantisipasi gangguan tersebut,” ujarnya.
Di sisi lain, penggunaan genset secara terus-menerus juga diperkirakan akan menambah beban anggaran operasional rumah sakit. Saat ini, manajemen masih menghitung kebutuhan tambahan biaya yang muncul akibat seringnya pemadaman listrik.
“Kami sedang melakukan perhitungan. Kalau memang ada penambahan anggaran operasional, nanti akan kami masukkan dalam perubahan anggaran,” katanya.
Lebih lanjut, dr. Bagus berharap PLN dapat memberikan prioritas kepada rumah sakit agar tidak menjadi lokasi yang terkena pemadaman bergilir. Menurutnya, rumah sakit merupakan fasilitas vital yang berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa masyarakat.
“Kami berharap PLN bisa memprioritaskan rumah sakit agar tidak mendapat giliran pemadaman. Di sini yang dipertaruhkan adalah pelayanan kesehatan dan keselamatan nyawa pasien. Kami juga sudah menyampaikan permohonan tersebut melalui bagian hukum kepada pihak PLN,” pungkasnya.










